Minggu, 30 November 2014

FILOSOFI POHON KELEPA



3A/5 PGSD
FILOSOFI POHON KELAPA

Kita semua tentunya sudah tidak asing dengan pohon kelapa, tapi pernahkah kita belajar dari filosofi pohon kelapa?  Kelapa (Cocos nucifera) adalah anggota tunggal dalam marga Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serbaguna, terutama bagi masyarakat pesisir. Kelapa juga adalah sebutan untuk buah yang dihasilkan tumbuhan ini. Tumbuhan ini diperkirakan berasal dari pesisir Samudera Hindia di sisi Asia, namun kini telah menyebar luas di seluruh pantai tropika dunia.
Pada artikel kali ini saya tidak akan membahas tentang sejarah asal-usul dari pohon kelapa tapi akan membahas tentang filosofi dari pohon kelapa yang sangat menginpirasi sesuai tema. Seperti yang sudah disebut diatas bahwa pohon kelapa adalah tumbuhan serbaguna dan yang menjadi bagian dari tumbuhan itu semuanya berguna dan memberi manfaat hingga tidak menyisakan sedikitpun mulai dari akar yang paling bawah hingga daun yang paling tinggi.
Mari kita perhatikan satu persatu mulai dari akar tumbuhan tersebut.
·         Akar kelapa selain bisa berfungsi sebagai penahan terjadinya erosi juga bisa dimanfaatkan sebagai kayu bakar juga untuk hiasan kerajinan tangan dan hebatnya akar kelapa ini menginspirasi penemuan teknologi penyangga bangunan Cakar Ayam dan terbukti banyak bangunan yang menggunakan tehnik seperti akar kelapa.
·         Kayu dari batangnya, yang disebut kayu gelugu, dapat dipakai sebagai papan untuk rumah atau bisa juga untuk penyangga bangunan atau yang disebut dengan soko guru.
·         Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa disebut janur, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakat Jawa dan Bali dalam berbagai upacara, dan menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (seni merangkai janur).
·         Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan disebut lidi, jika dihimpun menjadi satu bisa dijadikan sapu untuk membersihkan sampah dan kotoran.
·         Tandan bunga yang masih muda, yang disebut mayang atau manggar dalam bahasa Jawa, dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan simbol tertentu. Mayang oleh orang Jawa-Mataraman dipakai sebagai bahan pengganti gori dalam pembuatan gudeg dan disebut gudeg manggar.
·          Bunga betina atau buah mudanya, disebut bluluk dalam bahasa Jawa, dapat dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira atau legèn (bahasa. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi menjadi tuak. Gula kelapa juga dibuat dari nira ini.
·         Buah kelapa adalah bagian paling bernilai ekonomi. Sabut yang berupa serat-serat kasar, bisa digunakan sebagai bahan bakar, pengisi jok kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi anggrek. Tempurung atau batok, bisa digunakan sebagai bahan bakar, pengganti gayung, wadah minuman, dan bahan baku berbagai kerajinan tangan.
·         Endosperma buah kelapa yang berupa cairan serta endapannya yang melekat di dinding dalam batok (daging buah kelapa) adalah sumber penyegar populer. Daging buah muda berwarna putih dan lunak serta biasa disajikan sebagai es kelapa muda atau es degan. Cairan ini mengandung beraneka enzim dan memilki khasiat penetral racun dan efek penyegar atau penenang. Beberapa kelapa bermutasi sehingga endapannya tidak melekat pada dinding batok melainkan tercampur dengan cairan endosperma. Mutasi ini disebut (kelapa) kopyor. Daging buah tua kelapa berwarna putih dan mengeras. Sarinya diperas dan cairannya dinamakan santan.
·         Daging buah tua ini juga dapat diambil dan dikeringkan serta menjadi komoditi perdagangan bernilai ekonomis, yang disebut kopra. Kopra adalah bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Cairan buah tua biasanya tidak menjadi bahan minuman penyegar dan merupakan limbah industri kopra. Namun demikian, cairan ini dapat dimanfaatkan lagi untuk dibuat menjadi bahan semacam jelly yang disebut nata de coco dan merupakan bahan campuran minuman penyegar. Daging buah kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai penambah aroma pada masakan daging serta dapat dimanfaatkan sebagai obat rambut yang rontok dan mudah patah.
Sungguh luar biasa yang dihasilkan dari pohon kelapa, mulai dari akar sampai pucuk daun yang paling tinggi memberikan manfaat bagi manusia. Melihat dari filosofi dan azas manfaat yang diberikan pohon kelapa ini merupakan ayat kauniyah yang diberikan oleh Allah Ta'ala agar manusia bisa belajar dan memaknai hidup ini seperti pohon kelapa. Tidak menimbulkan kerusakan bahkan menjaga lingkungan dari kerusakan.
Pohon kelapa adalah simbol dari jiwa yang kokoh, kuat dan kaya akan manfaat. Tidak merasa takut bercita-cita tinggi walau angin menghembus kencang. Kuat bukan untuk menindas sesama tetapi mengayomi pohon-kecil yang ada disekitarnya. Kaya tapi tidak kikir karena apa yang dia miliki semua bisa memberi manfaat positif.

Selasa, 25 November 2014

HAKIKAT EMPIRISME SEBAGAI PENGENALAN PENGETAHUAN



PGSD.3A/05

Hakikat Empirisme Sebagai Pengenalan Pengetahuan

Menurut aliran ini manusia itu dilahirkan putih bersih seperti kertas putih, artinya tidak membawa potensi apa-apa. Perkembangan selanjutnya tergantung pada pendidikan dan lingkungan. Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena mempunyai bakat tersendiri, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan berasal dari dalam diri yang berupa kecerdasan atau kemauan, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya. Meskipun demikian, penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai makhluk pasif dan dapat diubah, misalnya melalui modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific psychology Skinner ataupun dengan behavioral. Behaviorisme itu menjadikan perilaku manusia tampak keluar sebagai sasaran kajiannya, dengan tetap menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar semata-mata.
Secara epistimologi, istilah empirisme berasal dari kata Yunani yaitu “emperia” yang artinya pengalaman. Berbeda dengan rasionalisme yang memberikan kedudukan bagi rasio sebagai sumber pengetahuan, maka empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah. Thomas Hobbes menganggap bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan (kalkulus), yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama, dengan cara berlainan. Dunia dan materi adalah objek pengenalan yang merupakan sistem materi dan merupakan suatu proses yang berlangsung tanpa hentinya atas dasar hukum dan mekanisme. Prinsip dan metode empirisme diterapkan pertama kali oleh Jhon Locke, langkah utamanya adalah teori empirisme seperti yang telah diajarkan Bacon dan Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Menurut dia, segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu.
Sementara menurut David Hume bahwa seluruh isi pemikiran berasal dari pengalaman, yang ia sebut dengan istilah “persepsi”. Menurut Hume persepsi terdiri dari dua macam, yaitu: kesan-kesan dan gagasan. Kesan adalah persepsi yang masuk melalui akal budi, secara langsung, sifatnya kuat dan hidup. Sedangkan gagasan adalah persepsi yang berisi gambaran kabur tentang kesan-kesan. Gagasan ini diartikan dengan cerminan dari kesan.
Jadi empirisme adalah aliran yang menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Aliran ini beranggapan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan cara (observasi/pengindraan). Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan, ia merupakan sumber dari pengetahuan manusia. Pada dasarnya aliran ini sangat bertentengan dengan rasionalisme.
Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, karena itu pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Sebaliknya, empirisme berpendapat bahwa pengetahuan yang berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Seorang yang beraliran empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan, betapa pun rumitnya, dapat dilacak kembali dan apa yang tidak  dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan.
Lebih lanjut, penganut empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi, yang kemudian dipahami didalam otak, dan akibat dari rangsangan tersebut terbentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat inderawi tersebut. Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan. Penganut aliran ini menganggap pengalaman sebagai satu-satunya sumber dasar ilmu pengetahuan. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.
Aliran empirisme ini dipelopori oleh John Locke, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Gagasan pendidikan Locke dimuat dalam bukunya “Essay Concerning Human Understanding” . Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.
Tokoh-tokoh penting dalam aliran empirisme :
1.      Jhon Locke. Lahir di kota Wringtone Kota Somerset Inggris tahun 1632 (meninggal tahun 1704).
2.      David Hume.Lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711. Ia menempuh pendidikan di kota kelahirannya.
3.       Francis Bacon. Francis Bacon (1561-1626), lahir di London di tengah-tengah keluarga bangsawan Sir Nicholas Bacon.
Aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung (Joseph, 2006).
Jadi segala kecakapan dan pengetahuanya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.
John Locke (dalam Joseph: 2006) tak ada sesuatu dalam jiwa yang sebelumnya tak ada dalam indera. Ini berarti apa yang terjadi, apa yang mempegaruhi apa yang membentuk perkembangan jiwa anak didik adalah lingkungan melalui pintu gerbang inderanya yang berarti tidak ada yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa melalui proses penginderaan.
Golongan empirisme memiliki pandangan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman. Hal ini dapat kita lihat seperti dalam masalah berikut. “Bagaimana kita mengetahui api itu panas?” Maka, seseorang empirisme akan berpandangan bahwa api itu panas karena memang dia mengalaminya sendiri dengan menyentuh api tersebut dan memperoleh pengalaman yang kita sebut “panas”. Dengan kata lain, dengan menggunakan alat inderawi peraba kita akan memperoleh pengalaman yang menjadi pengetahuan kita kelak.
John Locke, Bapak Empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa) dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.
Seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh melalui penginderaan serta refleksi yang sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.
Jadi, pengenalan atau pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Pengalaman adalah awal dari segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Segala pengetahuan diturunkan dari pengalaman. Dengan demikian, hanya pengalamanlah yang memberi jaminan kepastian.


Referensi:
Maksum, Ali. 2011. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik hingga Postmodemisme. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media



Minggu, 16 November 2014

GUNUNG SANTRI OBJEK WISATA YANG RELIGIUS



PGSD 3A/5

Gunung Santri Objek Wisata Religius

Gunung santri merupakan salah satu bukit dan nama kampung yang ada di Desa Bojonegara Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang daerah ini berada di sebelah barat laut daerah pantai utara 7 Kilometer dari Kota Cilegon. Letak gunung santri berada ditengah dikelilingi gugusan gunung-gunung yang memanjang dimulai dari pantai dan berakhir pada gunung induk yaitu gunung gede. Dipuncak gunung santri terdapat makan seorang wali yaitu Syekh Muhammad Sholeh, jarak tempuh dari kaki bukit menuju puncak bejarak 500 M hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Kampung di sekitar gunung santri antara lain Kejangkungan, Lumajang, Ciranggon, Beji, Gunung Santri dan Pangsoran. Di kaki bukit sebelah utara di kampung Beji terdapat masjid kuno yang seumur dengan masjid Banten lama yaitu Masjid Beji yang merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk aslinya sejak zaman Kesultanan Banten yang kala itu Sultan Hasanudin memimpin Banten. Syekh Muhammad Sholeh adalah Santri dari Sunan Ampel, setelah menimba ilmu beliau menemui Sultan Syarif  Hidayatullah atau lebih di kenal dengan gelar Sunan Gunung Jati (ayahanda dari Sultan Hasanudin) pada masa itu penguasa Cirebon. Dan Syeh Muhamad Sholeh diperintahkan oleh Sultan Syarif Hidayatullah untuk mencari putranya yang sudah lama tidak ke Cirebon dan sambil berdakwah yang kala itu Banten masih beragama hindu dan masih dibawah kekuasaan kerajaan pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahanya berada di Banten Girang.
Ayam jago tersebut berubah menjadi sosok Syekh Muhammad Sholeh sekembalinya di rumah Sultan Maulana Hasanudin. Akibat kekalahan adu ayam jago tersebut Prabu Pucuk Umun pun tidak terima dan mengajak berperang Sultan Maulana Hasanudin, mungkin sedang naas pasukan Prabu Pucuk Umun pun kalah dalam perperangan dan mundur ke selatan bersembunyi di pedalaman rangkas yang sekarang dikenal dengan suku Baduy. Setelah selesai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung santri dan melanjutkan aktifitasnya sebagai mubaligh dan menyiarkan agama Islam kembali. Keberhasilan Syekh Muhammad Sholeh dalam menyebarkan agama Islam di pantai utara banten ini didasari dengan rasa keihlasan dan kejujuran dalam menanamkan tauhid kepada santrinya, semua itu patut di teladani oleh kita semua oleh generasi penerus untuk menegakkan amal ma’ruf nahi mungkar. Beliau Wafat pada usia 76 Tahun dan beliau berpesan kepada santrinya jika ia wafat untuk dimakamkan di Gunung Santri dan di dekat makan beliau terdapat pengawal sekaligus santri syekh Muhammad Sholeh yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani syekh dalam meyiarkan Jalan menuju makam Waliyullah tersebut mencapai kemiringan 70-75 Derajat sehingga membutuhkan stamina yang prima untuk mencapai tujuan jika akan berziarah. Jarak tempuh dari tol cilegon Timur 6 KM kearah Utara Bojonegara, jika dari Kota Cilegon melalui jalan Eks Matahari lama sekarang menjadi gedung Cilegon Trade Center 7 KM kearah utara Bojonegara. Syekh Muhammad Sholeh wafat pada tahun 1550 Hijriah/958 M.
Menurut Agus, pengurus makam Syekh Muhammad Sholeh, sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk datang berziarah pada saat hari-hari tertentu. ”Lebih ramai lagi setelah lebaran puasa dan lebaran haji. Selain itu juga pada bulan-bulan tertentu seperti bulan maulid, roah, muharam dan rajab,” kata Agus. Bahkan pengunjung yang datang bukan hanya dari sekitar Serang dan Cilegon saja, melainkan dari berbagai daerah lain, seperti Tangerang, Pandeglang, Indramayu, Cirebon, Bandung, Majalengka, Tasikmalaya, Lampung, Medan, serta berbagai kota lainnya. Bukan hanya dari dalam negeri saja, beberapa turis dari luar negeri pun sempat mengunjungi Gunung Santri. ”Dari Malaysia berziarah kesini,” ucap Agus.
Kedatangan para peziarah umumnya memiliki niat tertentu sesuai dengan niat yang diinginkan. Seperti halnya Heni salah satu santri yang diajak olah ustadnya untuk berziarah. Heni adalah peziarah asal Kedungsoka yang datang jauh-jauh ke Gunung santri, berniat sebagai nazar syukur. Keberadaan makam di puncak bukit Gunung Santri ini juga membawa berkah kepada warga sekitar. Dengan selalu ramainya peziarah yang datang, otomatis dimanfaatkan untuk menggelar tempat usaha. Warga bisa berdagang makanan dan minuman, menjadi tukang parkir, tukang pemikul air, dan menjual kenang-kenangan suvenir kepada pengunjung. Penghasilan para warga bisa dikatakan lumayan, karena diperkirakan peziarah mendatangi Gunung Santri berjumlah puluhan ribuh peziarah. Ada makanan khas yang tak boleh terlupakan jika mendatangi Gunung Santri, yaitu pecel dan rempeyek kacang. Menurut Titin, sebenarnya bumbu dan sayuran pada pecel sama saja dengan pecel di daerah lainnya. ”Mungkin karena di sepanjang jalan dari bawah sampai atas panjang ada warung penjual pecel, jadi disebut pecel khas Gunung Santri,” kata Titin pedangang pecel sejak 4 tahun silam

IDEALISME_PRILAKU GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR



Ref_PGSD 3A/5


Idealisme - Perilaku Guru Dalam Proses Belajar Mengajar

Guru merupakan sosok yang begitu dihormati karena memiliki sumbangan yang cukup besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mencapai kemampuan optimalnya. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya di setiap jenjang pendidikan pada sekolah tertentu, pada saat itu juga ia menaruh harapan cukup besar kepada guru, agar anaknya dapat mendapatkan pendidikan, pembinaan, pelajaran, dan bimbingan sehingga anak tersebut dapat berkembang secara optimal
Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian anak didik untuk menyiapkan dan mengembangkan sumber daya yang dimiliki masing-masing peserta didik. Demikian besar tugas dan tanggung jawab guru, sehingga dibutuhkan sikap dan perilaku yang bisa menjadi teladan bagi anak didiknya.
Dalam PP No. 19 tahun 2005, Bab VI, pasal 28 dijelaskan bahwa, ada empat kompetensi yang mesti dimiliki oleh pendidik (guru) sebagai agen pembelajaran padaa pendidikan dasar, menengah, maupun anak usia dini.
a.       Kompetensi Pedagogik
b.      Kompetensi Kepribadian
c.       Kompetensi Prifesional
d.      Kompetensi Sosial
Terkait dengan kompetensi pendidik ini Samsul Yusuf (2007) menjelaskan:
a.       Pedagogik
Guru memiliki pemahaman yang mendalam tentang pendidikan, karakteristik peserta didik, bimbingan dan konseling. Administrasi pendidikan, kurikulum, evaluasi pendidikan, metode mengajar, (keterampilan bertanya, menjawab pertanyaan, membuka dan menutup pelajaran.
b.      Profesional
Guru memiliki pemahaman yang komprehensif tentang bidang studi yang diajarkan, dan memiliki komitmen untuk senantiasa meningkatkan kualitas keilmuannya, baik dengan megikuti pendidikan lanjut, seminar-seminar, maupun peltihan-pelatihan.
c.       Sosial
Guru memiliki kemampuan untuk berinteraksi sosial secara positif dengan orang lain, baik sesama guru, pimpinan sekolah, orang tua peserta didik, peserta didik dan pihak lainnya.
d.      Kepribadian
Guru memiliki karakteristik pribadi yang mantap atau akhlak mulia, sebagai suri tauladan, atau figure moral bagi peserta didik. Karakteristik pribadi guru diantaranya:
1.      Ikhlas (lillahi taala dalam mendidik, karena menyakini bahwa mendidik adalah salah satu bentuk ibadah kepada allah)
2.      Sabar (self-control, tabah hati, tidak mudah marah, atau tidak mudah frustasi, jika mengalami masalah atau musibah)
3.      Jujur (amanah, tidak berbohong, tidak menipu atau pun khianat)
4.      Rendah hati (tawadhu, tidak sombong, angkuh atau arogan)
5.      Disiplin (mentati peraturan yang tekah ditetapkan, baik yang terkait dengan tugas-tugas yang bersifat administratif maupun akademik)
6.      Istiqamah (memiliki sifat pribadi yang konsisten, ajeg, atau tegar hati, dalam mengamalkan kebenaran)
7.      Bersikap respek (bersikap hormat/menghargai) kepada peserta didik atau orang lain, tidak menyakiti pesert didik karena oramg lain.
8.      Antusias (bersemangat) dalam melaksanakan tugas, mengajar dikelas, menunujukan dalam meberikan penjelasan, ilustrasi dan jawaban terhadap pesrta didik.
9.      Memiliki motif yang tinggi untuk  motoif belajar (meneruskan studi yang lebih tinggi, rajin membaca buku, atau reeferensi lain, yang bermanfaat, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah: seminar, dan loka karya.
10.  Mencintai atau menyayangi pesrta didik
11.  Bersikap ramah, (tidak bersikap judes, tidak galak, atau “killer” tetapi murah senyum atau bersikap hangat.
12.  Lemah lembut (tidak bersikap kasar kepada anak didik)
13.  Bersikap adil (dalam memberi nilai, atau dalam memperlakukan, pserta didik, guru tidak pilih kasih, tidak menganakemaskan atau menganaktirikan).
14.  Bertutur kata yang sopan (kepada peserta didik ataupun kepada orang lain)
15.  Berpenampilan sederhana, sopan dan bersih (seperti dalam berprilaku, berpakaian dan bersisir rambut)
16.  Mau bekerja sama dengan orang lain (berkalaborasi dengan pimpinan sekolah, guru orang tua, peserta didik)
17.  Bersikap percaya diri (tidak infirior atau rendah diri)
jadi yang harus dilakukan guru dalam proses belajar mengajar adalah: menciptakan suasana yang  kondusif, kreatif, membuat suasana pembelajaran yang menarik dan mebangkitkan motivasi para siswa agar lebih aktif giat dalam belajar. Membimbing dan memberikan kemudahan bagi siswa dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi berkualitas. Selain itu juga guru harus mempunyai kepribadian yang putut mencerminkan layaknya seorang guru.
            Guru sebagai pendidik profesional, mempunyai citra yang baik dimasyarakat, apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat akan melihat bagaimana sikap dan perilaku guru sehari-hari, apakah ada yang patut di teladani, atau sebaliknya, bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, demikian juga bagaimana cara guru berpakaian, berbicara serta cara bergaul baik dengan anak didiknya, teman-temannya serta anggota masyarakat lainnya.
Soetjipto (2004:43) Pola perilaku guru yang dihubungkan dengan sikap profesional keguruan terhadap (1) Peraturan perundang-undangan, (2) Organisasi profesi, (3) Teman sejawat, (4) Anak didik, (5) Tempat kerja, (6) Pimpinan, dan (7) Pekerjaan.
Kartona (1990: 3) Perilaku mempunyai pengertian yang luas sekali. Yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, belajar, lari-lari, berolah raga, bergerak dan lain-lain; akan tetapi juga membahas macam-macam fungsi seperti, melihat, mendengar, berpikir, fantasi, pengenalan kembali, penampilan emosi-emosi dalam bentuk tagis, senyum dan seterusnya.
Implikasi filsafat dalam teori pendidikan:
·         Munculnya filsafat pendidikan yang dipelopori oleh plato
1.      Lahir dan berkembangnya mahzab-mahzab / aliran-aliran filsafat pendidikan, antara lain:
a.       Filsafat pendidikan idealisme, pendidikan= pemekaran kemampuan berbuat dan berpepikir.
b.      Filsafat pendidikan realisme, pendidikan= pemekaran kemampuan berbuat dan berpengalaman
c.       Filsafat pendidikan eksperimentalis/instrumentalisme= rekontruksi pengalaman yang terus berlangsung sepanjang hidup
d.      Filsafat pendidikan eksistensialisme= perwujudan kebebasan diri sendiri.






Referensi
Taufik, M. 2013. Pengantar Pendidikan. Bandung: CV.Mujahid Press.