PGSD.3A/05
Hakikat
Empirisme Sebagai Pengenalan Pengetahuan
Menurut
aliran ini manusia itu dilahirkan putih bersih seperti kertas putih, artinya
tidak membawa potensi apa-apa. Perkembangan selanjutnya tergantung pada
pendidikan dan lingkungan. Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya
mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan
kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut
kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena
mempunyai bakat tersendiri, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung
keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan berasal dari dalam diri yang
berupa kecerdasan atau kemauan, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat
mengembangkan bakat atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya. Meskipun
demikian, penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang
memandang manusia sebagai makhluk pasif dan dapat diubah, misalnya melalui
modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific psychology Skinner ataupun dengan behavioral.
Behaviorisme itu menjadikan perilaku manusia tampak keluar sebagai sasaran
kajiannya, dengan tetap menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil
belajar semata-mata.
Secara
epistimologi, istilah empirisme berasal dari kata Yunani yaitu “emperia” yang
artinya pengalaman. Berbeda dengan rasionalisme yang memberikan kedudukan bagi
rasio sebagai sumber pengetahuan, maka empirisme memilih pengalaman sebagai
sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah.
Thomas Hobbes menganggap bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala
pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan
(kalkulus), yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama, dengan cara
berlainan. Dunia dan materi adalah objek pengenalan yang merupakan sistem
materi dan merupakan suatu proses yang berlangsung tanpa hentinya atas dasar
hukum dan mekanisme. Prinsip dan metode empirisme diterapkan pertama kali oleh
Jhon Locke, langkah utamanya adalah teori empirisme seperti yang telah diajarkan
Bacon dan Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Menurut dia, segala
pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu.
Sementara
menurut David Hume bahwa seluruh isi pemikiran berasal dari pengalaman, yang ia
sebut dengan istilah “persepsi”. Menurut Hume persepsi terdiri dari dua macam,
yaitu: kesan-kesan dan gagasan. Kesan adalah persepsi yang masuk melalui akal
budi, secara langsung, sifatnya kuat dan hidup. Sedangkan gagasan adalah
persepsi yang berisi gambaran kabur tentang kesan-kesan. Gagasan ini diartikan
dengan cerminan dari kesan.
Jadi
empirisme adalah aliran yang menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan.
Aliran ini beranggapan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan
cara (observasi/pengindraan). Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam
pengetahuan, ia merupakan sumber dari pengetahuan manusia. Pada dasarnya aliran
ini sangat bertentengan dengan rasionalisme.
Rasionalisme
mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, karena itu pengenalan
inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Sebaliknya, empirisme
berpendapat bahwa pengetahuan yang berasal dari pengalaman sehingga pengenalan
inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Seorang yang
beraliran empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui
penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini
berarti semua pengetahuan, betapa pun rumitnya, dapat dilacak kembali dan apa
yang tidak dapat bukanlah ilmu
pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat
dilacak sampai pada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan
pengetahuan.
Lebih
lanjut, penganut empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu
objek yang merangsang alat-alat inderawi, yang kemudian dipahami didalam otak,
dan akibat dari rangsangan tersebut terbentuklah tanggapan-tanggapan mengenai
objek yang telah merangsang alat-alat inderawi tersebut. Empirisme memegang
peranan yang amat penting bagi pengetahuan. Penganut aliran ini menganggap
pengalaman sebagai satu-satunya sumber dasar ilmu pengetahuan. Pengalaman
inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.
Aliran
empirisme ini dipelopori oleh John Locke, filosof Inggris yang hidup pada tahun
1632-1704. Gagasan pendidikan Locke dimuat dalam bukunya “Essay Concerning
Human Understanding” . Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292)
dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisi pada dua tokoh
berikutnya, John Locke dan David Hume.
Tokoh-tokoh
penting dalam aliran empirisme :
1.
Jhon
Locke. Lahir di kota Wringtone Kota Somerset Inggris tahun 1632 (meninggal
tahun 1704).
2.
David
Hume.Lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711. Ia menempuh pendidikan di kota
kelahirannya.
3.
Francis
Bacon. Francis Bacon (1561-1626), lahir di London di tengah-tengah keluarga
bangsawan Sir Nicholas Bacon.
Aliran ini menganut paham yang
berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam
perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat
inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui
proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung (Joseph,
2006).
Jadi segala kecakapan dan
pengetahuanya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan
pengalaman didapatkan dari lingkungan atau dunia luar melalui indra, sehingga
dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak
didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.
John Locke (dalam Joseph: 2006) tak
ada sesuatu dalam jiwa yang sebelumnya tak ada dalam indera. Ini berarti apa
yang terjadi, apa yang mempegaruhi apa yang membentuk perkembangan jiwa anak
didik adalah lingkungan melalui pintu gerbang inderanya yang berarti tidak ada
yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa melalui proses penginderaan.
Golongan empirisme memiliki
pandangan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman. Hal ini dapat
kita lihat seperti dalam masalah berikut. “Bagaimana kita mengetahui api itu
panas?” Maka, seseorang empirisme akan berpandangan bahwa api itu panas karena
memang dia mengalaminya sendiri dengan menyentuh api tersebut dan memperoleh
pengalaman yang kita sebut “panas”. Dengan kata lain, dengan menggunakan alat
inderawi peraba kita akan memperoleh pengalaman yang menjadi pengetahuan kita
kelak.
John Locke, Bapak Empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa) dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.
John Locke, Bapak Empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa) dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.
Seluruh sisa pengetahuan kita
diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang
diperoleh melalui penginderaan serta refleksi yang sederhana tersebut. Ia
memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima
hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun
rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi
yang pertama-tama. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali secara
demikian itu bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.
Jadi, pengenalan
atau pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Pengalaman adalah awal dari
segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan
diteguhkan oleh pengalaman. Segala pengetahuan diturunkan dari pengalaman.
Dengan demikian, hanya pengalamanlah yang memberi jaminan kepastian.
Referensi:
Maksum, Ali.
2011. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik hingga Postmodemisme. Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar