Minggu, 16 November 2014

GUNUNG SANTRI OBJEK WISATA YANG RELIGIUS



PGSD 3A/5

Gunung Santri Objek Wisata Religius

Gunung santri merupakan salah satu bukit dan nama kampung yang ada di Desa Bojonegara Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang daerah ini berada di sebelah barat laut daerah pantai utara 7 Kilometer dari Kota Cilegon. Letak gunung santri berada ditengah dikelilingi gugusan gunung-gunung yang memanjang dimulai dari pantai dan berakhir pada gunung induk yaitu gunung gede. Dipuncak gunung santri terdapat makan seorang wali yaitu Syekh Muhammad Sholeh, jarak tempuh dari kaki bukit menuju puncak bejarak 500 M hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Kampung di sekitar gunung santri antara lain Kejangkungan, Lumajang, Ciranggon, Beji, Gunung Santri dan Pangsoran. Di kaki bukit sebelah utara di kampung Beji terdapat masjid kuno yang seumur dengan masjid Banten lama yaitu Masjid Beji yang merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk aslinya sejak zaman Kesultanan Banten yang kala itu Sultan Hasanudin memimpin Banten. Syekh Muhammad Sholeh adalah Santri dari Sunan Ampel, setelah menimba ilmu beliau menemui Sultan Syarif  Hidayatullah atau lebih di kenal dengan gelar Sunan Gunung Jati (ayahanda dari Sultan Hasanudin) pada masa itu penguasa Cirebon. Dan Syeh Muhamad Sholeh diperintahkan oleh Sultan Syarif Hidayatullah untuk mencari putranya yang sudah lama tidak ke Cirebon dan sambil berdakwah yang kala itu Banten masih beragama hindu dan masih dibawah kekuasaan kerajaan pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahanya berada di Banten Girang.
Ayam jago tersebut berubah menjadi sosok Syekh Muhammad Sholeh sekembalinya di rumah Sultan Maulana Hasanudin. Akibat kekalahan adu ayam jago tersebut Prabu Pucuk Umun pun tidak terima dan mengajak berperang Sultan Maulana Hasanudin, mungkin sedang naas pasukan Prabu Pucuk Umun pun kalah dalam perperangan dan mundur ke selatan bersembunyi di pedalaman rangkas yang sekarang dikenal dengan suku Baduy. Setelah selesai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung santri dan melanjutkan aktifitasnya sebagai mubaligh dan menyiarkan agama Islam kembali. Keberhasilan Syekh Muhammad Sholeh dalam menyebarkan agama Islam di pantai utara banten ini didasari dengan rasa keihlasan dan kejujuran dalam menanamkan tauhid kepada santrinya, semua itu patut di teladani oleh kita semua oleh generasi penerus untuk menegakkan amal ma’ruf nahi mungkar. Beliau Wafat pada usia 76 Tahun dan beliau berpesan kepada santrinya jika ia wafat untuk dimakamkan di Gunung Santri dan di dekat makan beliau terdapat pengawal sekaligus santri syekh Muhammad Sholeh yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani syekh dalam meyiarkan Jalan menuju makam Waliyullah tersebut mencapai kemiringan 70-75 Derajat sehingga membutuhkan stamina yang prima untuk mencapai tujuan jika akan berziarah. Jarak tempuh dari tol cilegon Timur 6 KM kearah Utara Bojonegara, jika dari Kota Cilegon melalui jalan Eks Matahari lama sekarang menjadi gedung Cilegon Trade Center 7 KM kearah utara Bojonegara. Syekh Muhammad Sholeh wafat pada tahun 1550 Hijriah/958 M.
Menurut Agus, pengurus makam Syekh Muhammad Sholeh, sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk datang berziarah pada saat hari-hari tertentu. ”Lebih ramai lagi setelah lebaran puasa dan lebaran haji. Selain itu juga pada bulan-bulan tertentu seperti bulan maulid, roah, muharam dan rajab,” kata Agus. Bahkan pengunjung yang datang bukan hanya dari sekitar Serang dan Cilegon saja, melainkan dari berbagai daerah lain, seperti Tangerang, Pandeglang, Indramayu, Cirebon, Bandung, Majalengka, Tasikmalaya, Lampung, Medan, serta berbagai kota lainnya. Bukan hanya dari dalam negeri saja, beberapa turis dari luar negeri pun sempat mengunjungi Gunung Santri. ”Dari Malaysia berziarah kesini,” ucap Agus.
Kedatangan para peziarah umumnya memiliki niat tertentu sesuai dengan niat yang diinginkan. Seperti halnya Heni salah satu santri yang diajak olah ustadnya untuk berziarah. Heni adalah peziarah asal Kedungsoka yang datang jauh-jauh ke Gunung santri, berniat sebagai nazar syukur. Keberadaan makam di puncak bukit Gunung Santri ini juga membawa berkah kepada warga sekitar. Dengan selalu ramainya peziarah yang datang, otomatis dimanfaatkan untuk menggelar tempat usaha. Warga bisa berdagang makanan dan minuman, menjadi tukang parkir, tukang pemikul air, dan menjual kenang-kenangan suvenir kepada pengunjung. Penghasilan para warga bisa dikatakan lumayan, karena diperkirakan peziarah mendatangi Gunung Santri berjumlah puluhan ribuh peziarah. Ada makanan khas yang tak boleh terlupakan jika mendatangi Gunung Santri, yaitu pecel dan rempeyek kacang. Menurut Titin, sebenarnya bumbu dan sayuran pada pecel sama saja dengan pecel di daerah lainnya. ”Mungkin karena di sepanjang jalan dari bawah sampai atas panjang ada warung penjual pecel, jadi disebut pecel khas Gunung Santri,” kata Titin pedangang pecel sejak 4 tahun silam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar