PGSD
3A/5
Hakikat Idealisme Terhadap Pendidikan
Idealisme adalah
doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam
kebergantungannya pada jiwa (mind)
dan roh (spirit). Istilah ini diambil dari kata “idea”, yaitu sesuatu
yang hadir dalam jiwa.Kata idealisme dalam filsafat mempunyai arti yang sangat
berbeda dari arti yang biasa dipakai dalam bahasa sehari-hari. Kata idealis itu
dapat mengandung beberapa pengertian, antara lain: Seorang yang menerima ukuran
moral yang tinggi, estetika, dan agama serta menghayatinya. Orang yang dapat
melukiskan dan menganjurkan suatu
rencana atau program yang belum ada.
Arti falsafi
dari kata idealisme ditentukan lebih banyak oleh arti dari kata ide dari
pada kata ideal. W.E. Hocking, seorang idealis mengatakan bahwa kata idea-ism lebih
tepat digunakan daripada idealism. Secara ringkas idealisme mengatakan
bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau
jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme menekankan mind
sebagai hal yang lebih dahulu (primer) daripada materi.
Jadi idealisme
adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat
dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme
yang mengajarkan bahwa materi begantung pada spirit tidak disebut idealis
karena mereka tidak menggunakan argumen epistimologi yang digunakan oleh
idealisme.
Idealisme juga
didefinisikan sebagai suatu ajaran, faham atau aliran yang menganggap bahwa
realitas ini terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau jiwa, ide-ide dan pikiran atau
yang sejenis dengan itu. Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam
perkembangan sejarah manusia. Mula-mula dalam filsafat barat barat kita temui
dalam bentuk ajaran yang murni dari plato, yang menyatakan bahwa alam idea
menyatakan kebenaran yang sebenarnya.
Dengan
demikian kesemuanya tercakup dalam pengertian, bahwa idealisme adalah suatu
fikiran metafisika yang mengatakan bahwa pikiran atau roh mempunyai wujud
(bentuk) sendiri yang terlepas dari alam semesta dan pikiran atau ide yang
menjadi sumbernya.
Tokoh-tokoh
aliran ini adalah: Plato (477-347), B.Spinoza (1632-1677), Liebniz (1685-1753),
Berkeley (1685-1753), Imannuel Kant (1724-1881), J. Fitchte (1762-1814), F.
Schelling (1755-1854), dan G, Hegel (1770-1831).
Tokoh-tokoh
dalam Aliran Idealisme
1. Plato (428-348
SM)
Dalam
perkembangannya, aliran ini ditemui pada ajaran Plato (428-348 SM) dengan teori
idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di alam mesti ada idenya, yaitu konsep
universal dari tiap sesuatu. Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah
berupa bayangan saja dari alam ide itu. Jadi idelah yang menjadi hakikat
sesuatu, menjadi dasar wujud sesuatu.
2. George
Berkeley (1685-1753)
George Berkeley
(1685-1753) yang dianggap sebagai Bapak Idealisme modern. Filsafatnya dianggap
sebagai titik tolak bagi tendensi idealistik atau tendensi konseptual pada
abad-abad terakhir filsafat. Inti idealisme dalam doktrin Berkeley dapat
didapatkan dalam ucapannya yang sangat terkenal: “Esse est Percipi”, (untuk
ada, berarti mengetahui atau diketahui). Dengan kata lain, sesuatu tak mungkin
dinyatakan ada selama sesuatu itu tidak mengetahui atau tidak diketahui.
Sesuatu yang mengetahui adalah jiwa, dan sesuatu yang diketahui adalah
konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan yang berada dalam wilayah persepsi dan
pengetahuan indrawi. Dengan demikian kita harus percaya adanya jiwa dan gagasan
itu. Segala sesuatau yang berada di luar lingkup pengetahuan, yaitu segala
sesuatu yang objektif, tidak ada karena tidak diketahui.
Berkeley
menyatakan bahwa budi dengan persepsinya adalah satu-satunya kenyataan yang
ada. Menurut dia, ‘ada’ berarti ‘atau menjadi objek persepsi budi atau budi
yang mempersepsinya’. Menurut dia, objek fisik itu berada hanya sejauh
berada di dalam budi, yaitu sejauh dipersepsi oleh budi. Pandangan ini disebut
idealisme. Berkeley menyatakan bahwa pernyataan mengenai objek fisik hanya
dapat dimengerti dan dipahami artinya sejauh pernyataan itu dapat ditafsirkan
sebagai pernyataan mengenai persepsi orang yang menangkapnya.
3.
Immanuel Kant (1725-1804)
Kant mula-mula
mengadakan penyelidikan tentang pengetahuan barang-barang (Ding an sich). Yang
kita ketahui ini hanyalah reaksi dari penginderaan kita yang oleh Kant disebut
sebagai phenomenen (gejala-gejala). Gejala-gejala yang kita anggap itu diterima
oleh indera kita lalu oleh pengamatan indera ini diteruskan kepada akal kita
melalui bentuk-bentuk pengamatan ruang dan waktu, kemudia hasil pengamatan itu
diterima reaksinya dalam akal kita dan di dalam akal itu terdapat alat-alat
pemikiran yang dinamakan kategori-kategori sebagai tempat memasak. Akhirnya
dari masakan kategori-kategori itu kita dapatkan gambaran dari apa yang kita rasakan
yang kita lihat dan dengar
4. George wilhelm
Friedrich Hegel (1770-1831)
Hegel sangat
mementingkan rasio, akan tetapi, kalau dikatakan demikian kita mengerti
maksudnya. Yang dimaksud bukan saja rasio pada manusia perorangan, tetapi juga-
bahkan terutama- rasio pada subjek Absolut, karena Hegel pun menerima prinsip
idealistis, bahwa realitas seluruhnya harus disetarakan dengan suatu subjek.
Suatu dalil Hegel yang kemudian menjadi terkenal berbunyi, “semuanya yang riil
bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat riil”.
Dalil ini
maksudnya ialah bahwa luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Realitas
seluruhnya adalah proses pemikiran atau “Ide” menurut istilah yang dipakai
Hegel, yang memikirkan dirinya sendiri. Atau dengan perkataan Hegel lain lagi,
realitas seluruhnya adalah lambat laun menjadi sadar akan dirinya. Dengan
mementingkan rasio Hegel sengaja bereaksi atas kecondongan intelektual pada
waktu itu yang mencurigai rasio sambil mengutamakan perasaan. Kecondongan ini
terutama dilihat di dalam kalangan “filsafat kepercayaan” dan dalam
aliran sastra Jerman yang disebut “Romantik”
Pokok utama yang diajukan oleh
idealisme adalah jiwa mempunyai kedudukan yang utama dalam alam semesta.
Sebenarnya, idealisme tidak mengingkari materi. Namun, materi adalah suatu
gagasan yang tidak jelas dan bukan hakikat. Sebab, seseorangakanmemikirkan
materi dalam hakikatnya yang terdalam, dia harus memikirkan roh atau akal. Jika
seseorang ingin mengetahui apakah sesungguhnya materi itu, dia harus meneliti apakah
pikiran itu, apakah nilai itu, dan apakah akal budi itu, bukannya apakah materi
itu.
Paham ini beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia ada
karena ada unsur yang tidak terlihat yang mengandung sikap dan tindakan
manusia. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian. Untuk
menjadi manusia maka peralatan yang digunakannya bukan semata-mata peralatan
jasmaniah yang mencakup hanya peralatan panca indera, tetapi juga peralatan
rohaniah yang mencakup akal dan budi. Justru akal dan budilah yang menentukan
kualitas manusia.
·
Pemikiran
Filosof Idealisme
Pemikiran-pemikiran
filosof Idealisme dalam hal ini akan membasah tentang Realitas, Pendidikan dan
Pengetahuan.
1)
Realitas
Menurut filsafat
idealisme realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Parmenides,
filosof dari Elea (Yunani Purba), berkata, “Apa yang tidak dapat dipikirkan
adalah tidak nyata” .
Plato, seorang
filosof idealisme klasik (Yunani Purba), menyatakan bahwa realitas terakhir
adalah dunia cinta. Hakikat manusia adalah jiwanya, rohaninya, yakni apa yang
disebut “mind”. Mind merupakan suatu wujud yang mempu menyadari dunianya,
bahkan sebagai pendorong dan penggerak semua tinngkah laku manusia. jiwa (mind)
merupakan faktor utama yang menggerakkan semua aktivitas manusia, badan atau
jasmani tanpa jiwa tidak memiliki apa-apa.
2)
Pengetahuan
Seperti yang
kita ketahui Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa
pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan
kenyataan yang diketahui manusia itu sendiri terletak di luarnya.
Hegel
menguraikan konsep Plato tentang teori pengetahuan dengan mengatakan bahwa
pengetahuan dikatakan valid, sepanjanng sistematis, maka pengetahuan manusia
tentang realitas adalah benar dalam arti sistematis. Dalam teori pengetahuan
dan kebenaran, idealisme merujuk pada rasionalisme dan teori koherensi.
Seperti yang
dikutip dalam buku Henderson (1959: 215) mengemukakan bahawa:
Jadi,
rasionalisme mendasari teori pengetahuan idealisme, mengemukakan bahwa indera
kita hanya memberikan materi mentah bagi pengetahuan.
3) Pendidikan
Pendidikan
merupakan proses atau usaha yang terancang atau sistematis dan berkepanjangan
atau terus-menerus untuk mengembangkan potensi dari manusia yang akan membentuk
kepribadian-pribadian yang baik.
Dalam
hubungannya dengan pendidikan Power (1982: 89) dalam bukunya mengemukakan
implikasi filsafat pendidikan idealisme sebagai berikut:
1. Tujuan
pendidikan
Pendidikan
formal dan informal bertujuan membentuk karakter, dan mengembangkan bakat atau
kemampuan dasar, serta kebaikan sosial.
2.
Kedudukan siswa
Bekerja sama
dengan alam dalam proses pengembangan manusia, terutama bertanggung jawab dalam
menciptakan lingkungnan pendidikan siswa.
3.
Kurikulum
Pendidikan
liberal untuk mengembangkan kemampuan rasional, dan pendidikan praktis untuk
memproleh pekerjaan.
4. Metode
Diutamakan
metode dialektika, tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar