PGSD
3A/5
Gunung
Santri Objek Wisata Religius
Gunung
santri merupakan salah satu bukit dan nama kampung yang ada di Desa Bojonegara
Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang daerah ini berada di sebelah barat laut
daerah pantai utara 7 Kilometer dari Kota Cilegon. Letak gunung santri berada
ditengah dikelilingi gugusan gunung-gunung yang memanjang dimulai dari pantai
dan berakhir pada gunung induk yaitu gunung gede. Dipuncak gunung santri
terdapat makan seorang wali yaitu Syekh Muhammad Sholeh, jarak tempuh dari kaki
bukit menuju puncak bejarak 500 M hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Kampung di sekitar gunung santri antara lain Kejangkungan, Lumajang, Ciranggon,
Beji, Gunung Santri dan Pangsoran. Di kaki bukit sebelah utara di kampung Beji terdapat
masjid kuno yang seumur dengan masjid Banten lama yaitu Masjid Beji yang
merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk
aslinya sejak zaman Kesultanan Banten yang kala itu Sultan Hasanudin memimpin
Banten. Syekh Muhammad Sholeh adalah Santri dari Sunan Ampel, setelah menimba
ilmu beliau menemui Sultan Syarif
Hidayatullah atau lebih di kenal dengan gelar Sunan Gunung Jati
(ayahanda dari Sultan Hasanudin) pada masa itu penguasa Cirebon. Dan Syeh
Muhamad Sholeh diperintahkan oleh Sultan Syarif Hidayatullah untuk mencari
putranya yang sudah lama tidak ke Cirebon dan sambil berdakwah yang kala itu
Banten masih beragama hindu dan masih dibawah kekuasaan kerajaan pajajaran yang
dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahanya berada di Banten
Girang.
Ayam
jago tersebut berubah menjadi sosok Syekh Muhammad Sholeh sekembalinya di rumah
Sultan Maulana Hasanudin. Akibat kekalahan adu ayam jago tersebut Prabu Pucuk
Umun pun tidak terima dan mengajak berperang Sultan Maulana Hasanudin, mungkin
sedang naas pasukan Prabu Pucuk Umun pun kalah dalam perperangan dan mundur ke
selatan bersembunyi di pedalaman rangkas yang sekarang dikenal dengan suku
Baduy. Setelah selesai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad
Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung santri dan melanjutkan aktifitasnya
sebagai mubaligh dan menyiarkan agama Islam kembali. Keberhasilan Syekh
Muhammad Sholeh dalam menyebarkan agama Islam di pantai utara banten ini
didasari dengan rasa keihlasan dan kejujuran dalam menanamkan tauhid kepada
santrinya, semua itu patut di teladani oleh kita semua oleh generasi penerus
untuk menegakkan amal ma’ruf nahi mungkar. Beliau Wafat pada usia 76 Tahun dan
beliau berpesan kepada santrinya jika ia wafat untuk dimakamkan di Gunung
Santri dan di dekat makan beliau terdapat pengawal sekaligus santri syekh
Muhammad Sholeh yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani
syekh dalam meyiarkan Jalan menuju makam Waliyullah tersebut mencapai kemiringan
70-75 Derajat sehingga membutuhkan stamina yang prima untuk mencapai tujuan
jika akan berziarah. Jarak tempuh dari tol cilegon Timur 6 KM kearah Utara
Bojonegara, jika dari Kota Cilegon melalui jalan Eks Matahari lama sekarang
menjadi gedung Cilegon Trade Center 7 KM kearah utara Bojonegara. Syekh
Muhammad Sholeh wafat pada tahun 1550 Hijriah/958 M.
Menurut
Agus, pengurus makam Syekh Muhammad Sholeh, sudah menjadi kebiasaan masyarakat
untuk datang berziarah pada saat hari-hari tertentu. ”Lebih ramai lagi setelah
lebaran puasa dan lebaran haji. Selain itu juga pada bulan-bulan tertentu
seperti bulan maulid, roah, muharam dan rajab,” kata Agus. Bahkan pengunjung
yang datang bukan hanya dari sekitar Serang dan Cilegon saja, melainkan dari
berbagai daerah lain, seperti Tangerang, Pandeglang, Indramayu, Cirebon,
Bandung, Majalengka, Tasikmalaya, Lampung, Medan, serta berbagai kota lainnya.
Bukan hanya dari dalam negeri saja, beberapa turis dari luar negeri pun sempat
mengunjungi Gunung Santri. ”Dari Malaysia berziarah kesini,” ucap Agus.
Kedatangan
para peziarah umumnya memiliki niat tertentu sesuai dengan niat yang
diinginkan. Seperti halnya Heni salah satu santri yang diajak olah ustadnya
untuk berziarah. Heni adalah peziarah asal Kedungsoka yang datang jauh-jauh ke
Gunung santri, berniat sebagai nazar syukur. Keberadaan makam di puncak bukit
Gunung Santri ini juga membawa berkah kepada warga sekitar. Dengan selalu
ramainya peziarah yang datang, otomatis dimanfaatkan untuk menggelar tempat
usaha. Warga bisa berdagang makanan dan minuman, menjadi tukang parkir, tukang
pemikul air, dan menjual kenang-kenangan suvenir kepada pengunjung. Penghasilan
para warga bisa dikatakan lumayan, karena diperkirakan peziarah mendatangi
Gunung Santri berjumlah puluhan ribuh peziarah. Ada makanan khas yang tak boleh
terlupakan jika mendatangi Gunung Santri, yaitu pecel dan rempeyek kacang.
Menurut Titin, sebenarnya bumbu dan sayuran pada pecel sama saja dengan pecel
di daerah lainnya. ”Mungkin karena di sepanjang jalan dari bawah sampai atas
panjang ada warung penjual pecel, jadi disebut pecel khas Gunung Santri,” kata
Titin pedangang pecel sejak 4 tahun silam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar