Minggu, 16 November 2014

HAKIKAT IDEALISME TERHADAP PENDIDIKAN



PGSD 3A/5

Hakikat Idealisme Terhadap Pendidikan
Idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya pada  jiwa (mind) dan roh (spirit). Istilah ini diambil dari kata “idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa.Kata idealisme dalam filsafat mempunyai arti yang sangat berbeda dari arti yang biasa dipakai dalam bahasa sehari-hari. Kata idealis itu dapat mengandung beberapa pengertian, antara lain: Seorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika, dan agama serta menghayatinya. Orang  yang  dapat  melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau program yang belum ada.
Arti falsafi dari kata idealisme ditentukan lebih banyak oleh arti dari kata ide dari pada kata ideal. W.E. Hocking, seorang  idealis mengatakan bahwa kata idea-ism lebih tepat digunakan daripada idealism. Secara ringkas idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme menekankan mind sebagai hal yang lebih dahulu (primer) daripada materi.
Jadi idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi begantung pada spirit tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argumen epistimologi yang digunakan oleh idealisme.
Idealisme juga didefinisikan sebagai suatu ajaran, faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau jiwa, ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu. Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah manusia. Mula-mula dalam filsafat barat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari plato, yang menyatakan bahwa alam idea menyatakan kebenaran yang sebenarnya.
            Dengan demikian kesemuanya tercakup dalam pengertian, bahwa idealisme adalah suatu fikiran metafisika yang mengatakan bahwa pikiran atau roh mempunyai wujud (bentuk) sendiri yang terlepas dari alam semesta dan pikiran atau ide yang menjadi sumbernya.
            Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Plato (477-347), B.Spinoza (1632-1677), Liebniz (1685-1753), Berkeley (1685-1753), Imannuel Kant (1724-1881), J. Fitchte (1762-1814), F. Schelling (1755-1854), dan G, Hegel (1770-1831).
            Tokoh-tokoh dalam Aliran Idealisme
1.    Plato (428-348 SM)
Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui pada ajaran Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di alam mesti ada idenya, yaitu konsep universal dari tiap sesuatu. Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide itu. Jadi idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar wujud sesuatu.
2.      George Berkeley (1685-1753)
George Berkeley (1685-1753) yang dianggap sebagai Bapak Idealisme modern. Filsafatnya dianggap sebagai titik tolak bagi tendensi idealistik atau tendensi konseptual pada abad-abad terakhir filsafat. Inti idealisme dalam doktrin Berkeley dapat didapatkan dalam ucapannya yang sangat terkenal: “Esse est Percipi”, (untuk ada, berarti mengetahui atau diketahui). Dengan kata lain, sesuatu tak mungkin dinyatakan ada selama sesuatu itu tidak mengetahui atau tidak diketahui. Sesuatu yang mengetahui adalah jiwa, dan sesuatu yang diketahui adalah konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan yang berada dalam wilayah persepsi dan pengetahuan indrawi. Dengan demikian kita harus percaya adanya jiwa dan gagasan itu. Segala sesuatau yang berada di luar lingkup pengetahuan, yaitu segala sesuatu yang objektif, tidak ada karena tidak diketahui.
Berkeley menyatakan bahwa budi dengan persepsinya adalah satu-satunya kenyataan yang ada. Menurut dia, ‘ada’ berarti ‘atau menjadi objek persepsi budi atau budi yang mempersepsinya’. Menurut dia, objek fisik itu berada  hanya sejauh berada di dalam budi, yaitu sejauh dipersepsi oleh budi. Pandangan ini disebut idealisme. Berkeley menyatakan bahwa pernyataan mengenai objek fisik hanya dapat dimengerti dan dipahami artinya sejauh pernyataan itu dapat ditafsirkan sebagai pernyataan mengenai persepsi orang yang menangkapnya.
3.      Immanuel Kant (1725-1804)
Kant mula-mula mengadakan penyelidikan tentang pengetahuan barang-barang (Ding an sich). Yang kita ketahui ini hanyalah reaksi dari penginderaan kita yang oleh Kant disebut sebagai phenomenen (gejala-gejala). Gejala-gejala yang kita anggap itu diterima oleh indera kita lalu oleh pengamatan indera ini diteruskan kepada akal kita melalui bentuk-bentuk pengamatan ruang dan waktu, kemudia hasil pengamatan itu diterima reaksinya dalam akal kita dan di dalam akal itu terdapat alat-alat pemikiran yang dinamakan kategori-kategori sebagai tempat memasak. Akhirnya dari masakan kategori-kategori itu kita dapatkan gambaran dari apa yang kita rasakan yang kita lihat dan dengar
4.      George wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831)
Hegel sangat mementingkan rasio, akan tetapi, kalau dikatakan demikian kita mengerti maksudnya. Yang dimaksud bukan saja rasio pada manusia perorangan, tetapi juga- bahkan terutama- rasio pada subjek Absolut, karena Hegel pun menerima prinsip idealistis, bahwa realitas seluruhnya harus disetarakan dengan suatu subjek. Suatu dalil Hegel yang kemudian menjadi terkenal berbunyi, “semuanya yang riil bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat riil”.
Dalil ini maksudnya ialah bahwa luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Realitas seluruhnya adalah proses pemikiran atau “Ide” menurut istilah yang dipakai Hegel, yang memikirkan dirinya sendiri. Atau dengan perkataan Hegel lain lagi, realitas seluruhnya adalah lambat laun menjadi sadar akan dirinya. Dengan mementingkan rasio Hegel sengaja bereaksi atas kecondongan intelektual pada waktu itu yang mencurigai rasio sambil mengutamakan perasaan. Kecondongan ini terutama dilihat di dalam kalangan  “filsafat kepercayaan” dan dalam aliran sastra Jerman yang disebut “Romantik”
            Pokok utama yang diajukan oleh idealisme adalah jiwa mempunyai kedudukan yang utama dalam alam semesta. Sebenarnya, idealisme tidak mengingkari materi. Namun, materi adalah suatu gagasan yang tidak jelas dan bukan hakikat. Sebab, seseorangakanmemikirkan materi dalam hakikatnya yang terdalam, dia harus memikirkan roh atau akal. Jika seseorang ingin mengetahui apakah sesungguhnya materi itu, dia harus meneliti apakah pikiran itu, apakah nilai itu, dan apakah akal budi itu, bukannya apakah materi itu.
   Paham ini beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia ada karena ada unsur yang tidak terlihat yang mengandung sikap dan tindakan manusia. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian. Untuk menjadi manusia maka peralatan yang digunakannya bukan semata-mata peralatan jasmaniah yang mencakup hanya peralatan panca indera, tetapi juga peralatan rohaniah yang mencakup akal dan budi. Justru akal dan budilah yang menentukan kualitas manusia.
·         Pemikiran Filosof Idealisme
Pemikiran-pemikiran filosof Idealisme dalam hal ini akan membasah tentang Realitas, Pendidikan dan Pengetahuan.
1)      Realitas
Menurut filsafat idealisme realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Parmenides, filosof dari Elea (Yunani Purba), berkata, “Apa yang tidak dapat dipikirkan adalah tidak nyata” .
Plato, seorang filosof idealisme klasik (Yunani Purba), menyatakan bahwa realitas terakhir adalah dunia cinta. Hakikat manusia adalah jiwanya, rohaninya, yakni apa yang disebut “mind”. Mind merupakan suatu wujud yang mempu menyadari dunianya, bahkan sebagai pendorong dan penggerak semua tinngkah laku manusia. jiwa (mind) merupakan faktor utama yang menggerakkan semua aktivitas manusia, badan atau jasmani tanpa jiwa tidak memiliki apa-apa.
2)      Pengetahuan
Seperti yang kita ketahui Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu sendiri terletak di luarnya.
Hegel menguraikan konsep Plato tentang teori pengetahuan dengan mengatakan bahwa pengetahuan dikatakan valid, sepanjanng sistematis, maka pengetahuan manusia tentang realitas adalah benar dalam arti sistematis. Dalam teori pengetahuan dan kebenaran, idealisme merujuk pada rasionalisme dan teori koherensi.
Seperti yang dikutip dalam buku Henderson (1959: 215) mengemukakan bahawa:
Jadi, rasionalisme mendasari teori pengetahuan idealisme, mengemukakan bahwa indera kita hanya memberikan materi mentah bagi pengetahuan.
3)   Pendidikan
Pendidikan merupakan proses atau usaha yang terancang atau sistematis dan berkepanjangan atau terus-menerus untuk mengembangkan potensi dari manusia yang akan membentuk kepribadian-pribadian yang baik.
Dalam hubungannya dengan pendidikan Power (1982: 89) dalam bukunya mengemukakan implikasi filsafat pendidikan idealisme sebagai berikut:
1. Tujuan pendidikan
Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk karakter, dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial.
2.      Kedudukan siswa
Bekerja sama dengan alam dalam proses pengembangan manusia, terutama bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungnan pendidikan siswa.
3.      Kurikulum
Pendidikan liberal untuk mengembangkan kemampuan rasional, dan pendidikan praktis untuk memproleh pekerjaan.
4.  Metode
Diutamakan metode dialektika, tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar