Minggu, 16 November 2014

IDEALISME_PRILAKU GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR



Ref_PGSD 3A/5


Idealisme - Perilaku Guru Dalam Proses Belajar Mengajar

Guru merupakan sosok yang begitu dihormati karena memiliki sumbangan yang cukup besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mencapai kemampuan optimalnya. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya di setiap jenjang pendidikan pada sekolah tertentu, pada saat itu juga ia menaruh harapan cukup besar kepada guru, agar anaknya dapat mendapatkan pendidikan, pembinaan, pelajaran, dan bimbingan sehingga anak tersebut dapat berkembang secara optimal
Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian anak didik untuk menyiapkan dan mengembangkan sumber daya yang dimiliki masing-masing peserta didik. Demikian besar tugas dan tanggung jawab guru, sehingga dibutuhkan sikap dan perilaku yang bisa menjadi teladan bagi anak didiknya.
Dalam PP No. 19 tahun 2005, Bab VI, pasal 28 dijelaskan bahwa, ada empat kompetensi yang mesti dimiliki oleh pendidik (guru) sebagai agen pembelajaran padaa pendidikan dasar, menengah, maupun anak usia dini.
a.       Kompetensi Pedagogik
b.      Kompetensi Kepribadian
c.       Kompetensi Prifesional
d.      Kompetensi Sosial
Terkait dengan kompetensi pendidik ini Samsul Yusuf (2007) menjelaskan:
a.       Pedagogik
Guru memiliki pemahaman yang mendalam tentang pendidikan, karakteristik peserta didik, bimbingan dan konseling. Administrasi pendidikan, kurikulum, evaluasi pendidikan, metode mengajar, (keterampilan bertanya, menjawab pertanyaan, membuka dan menutup pelajaran.
b.      Profesional
Guru memiliki pemahaman yang komprehensif tentang bidang studi yang diajarkan, dan memiliki komitmen untuk senantiasa meningkatkan kualitas keilmuannya, baik dengan megikuti pendidikan lanjut, seminar-seminar, maupun peltihan-pelatihan.
c.       Sosial
Guru memiliki kemampuan untuk berinteraksi sosial secara positif dengan orang lain, baik sesama guru, pimpinan sekolah, orang tua peserta didik, peserta didik dan pihak lainnya.
d.      Kepribadian
Guru memiliki karakteristik pribadi yang mantap atau akhlak mulia, sebagai suri tauladan, atau figure moral bagi peserta didik. Karakteristik pribadi guru diantaranya:
1.      Ikhlas (lillahi taala dalam mendidik, karena menyakini bahwa mendidik adalah salah satu bentuk ibadah kepada allah)
2.      Sabar (self-control, tabah hati, tidak mudah marah, atau tidak mudah frustasi, jika mengalami masalah atau musibah)
3.      Jujur (amanah, tidak berbohong, tidak menipu atau pun khianat)
4.      Rendah hati (tawadhu, tidak sombong, angkuh atau arogan)
5.      Disiplin (mentati peraturan yang tekah ditetapkan, baik yang terkait dengan tugas-tugas yang bersifat administratif maupun akademik)
6.      Istiqamah (memiliki sifat pribadi yang konsisten, ajeg, atau tegar hati, dalam mengamalkan kebenaran)
7.      Bersikap respek (bersikap hormat/menghargai) kepada peserta didik atau orang lain, tidak menyakiti pesert didik karena oramg lain.
8.      Antusias (bersemangat) dalam melaksanakan tugas, mengajar dikelas, menunujukan dalam meberikan penjelasan, ilustrasi dan jawaban terhadap pesrta didik.
9.      Memiliki motif yang tinggi untuk  motoif belajar (meneruskan studi yang lebih tinggi, rajin membaca buku, atau reeferensi lain, yang bermanfaat, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah: seminar, dan loka karya.
10.  Mencintai atau menyayangi pesrta didik
11.  Bersikap ramah, (tidak bersikap judes, tidak galak, atau “killer” tetapi murah senyum atau bersikap hangat.
12.  Lemah lembut (tidak bersikap kasar kepada anak didik)
13.  Bersikap adil (dalam memberi nilai, atau dalam memperlakukan, pserta didik, guru tidak pilih kasih, tidak menganakemaskan atau menganaktirikan).
14.  Bertutur kata yang sopan (kepada peserta didik ataupun kepada orang lain)
15.  Berpenampilan sederhana, sopan dan bersih (seperti dalam berprilaku, berpakaian dan bersisir rambut)
16.  Mau bekerja sama dengan orang lain (berkalaborasi dengan pimpinan sekolah, guru orang tua, peserta didik)
17.  Bersikap percaya diri (tidak infirior atau rendah diri)
jadi yang harus dilakukan guru dalam proses belajar mengajar adalah: menciptakan suasana yang  kondusif, kreatif, membuat suasana pembelajaran yang menarik dan mebangkitkan motivasi para siswa agar lebih aktif giat dalam belajar. Membimbing dan memberikan kemudahan bagi siswa dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi berkualitas. Selain itu juga guru harus mempunyai kepribadian yang putut mencerminkan layaknya seorang guru.
            Guru sebagai pendidik profesional, mempunyai citra yang baik dimasyarakat, apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat akan melihat bagaimana sikap dan perilaku guru sehari-hari, apakah ada yang patut di teladani, atau sebaliknya, bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, demikian juga bagaimana cara guru berpakaian, berbicara serta cara bergaul baik dengan anak didiknya, teman-temannya serta anggota masyarakat lainnya.
Soetjipto (2004:43) Pola perilaku guru yang dihubungkan dengan sikap profesional keguruan terhadap (1) Peraturan perundang-undangan, (2) Organisasi profesi, (3) Teman sejawat, (4) Anak didik, (5) Tempat kerja, (6) Pimpinan, dan (7) Pekerjaan.
Kartona (1990: 3) Perilaku mempunyai pengertian yang luas sekali. Yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, belajar, lari-lari, berolah raga, bergerak dan lain-lain; akan tetapi juga membahas macam-macam fungsi seperti, melihat, mendengar, berpikir, fantasi, pengenalan kembali, penampilan emosi-emosi dalam bentuk tagis, senyum dan seterusnya.
Implikasi filsafat dalam teori pendidikan:
·         Munculnya filsafat pendidikan yang dipelopori oleh plato
1.      Lahir dan berkembangnya mahzab-mahzab / aliran-aliran filsafat pendidikan, antara lain:
a.       Filsafat pendidikan idealisme, pendidikan= pemekaran kemampuan berbuat dan berpepikir.
b.      Filsafat pendidikan realisme, pendidikan= pemekaran kemampuan berbuat dan berpengalaman
c.       Filsafat pendidikan eksperimentalis/instrumentalisme= rekontruksi pengalaman yang terus berlangsung sepanjang hidup
d.      Filsafat pendidikan eksistensialisme= perwujudan kebebasan diri sendiri.






Referensi
Taufik, M. 2013. Pengantar Pendidikan. Bandung: CV.Mujahid Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar