Ref_PGSD 3A/5
Idealisme - Perilaku Guru Dalam Proses Belajar
Mengajar
Guru merupakan
sosok yang begitu dihormati karena memiliki sumbangan yang cukup besar terhadap
keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan
peserta didik untuk mencapai kemampuan optimalnya. Ketika orang tua
mendaftarkan anaknya di setiap jenjang pendidikan pada sekolah tertentu, pada
saat itu juga ia menaruh harapan cukup besar kepada guru, agar anaknya dapat
mendapatkan pendidikan, pembinaan, pelajaran, dan bimbingan sehingga anak
tersebut dapat berkembang secara optimal
Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian anak didik untuk menyiapkan dan mengembangkan sumber daya yang dimiliki masing-masing peserta didik. Demikian besar tugas dan tanggung jawab guru, sehingga dibutuhkan sikap dan perilaku yang bisa menjadi teladan bagi anak didiknya.
Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian anak didik untuk menyiapkan dan mengembangkan sumber daya yang dimiliki masing-masing peserta didik. Demikian besar tugas dan tanggung jawab guru, sehingga dibutuhkan sikap dan perilaku yang bisa menjadi teladan bagi anak didiknya.
Dalam
PP No. 19 tahun 2005, Bab VI, pasal 28 dijelaskan bahwa, ada empat kompetensi
yang mesti dimiliki oleh pendidik (guru) sebagai agen pembelajaran padaa
pendidikan dasar, menengah, maupun anak usia dini.
a.
Kompetensi
Pedagogik
b.
Kompetensi
Kepribadian
c.
Kompetensi
Prifesional
d.
Kompetensi
Sosial
Terkait
dengan kompetensi pendidik ini Samsul Yusuf (2007) menjelaskan:
a.
Pedagogik
Guru memiliki pemahaman yang mendalam
tentang pendidikan, karakteristik peserta didik, bimbingan dan konseling.
Administrasi pendidikan, kurikulum, evaluasi pendidikan, metode mengajar,
(keterampilan bertanya, menjawab pertanyaan, membuka dan menutup pelajaran.
b.
Profesional
Guru memiliki pemahaman yang
komprehensif tentang bidang studi yang diajarkan, dan memiliki komitmen untuk
senantiasa meningkatkan kualitas keilmuannya, baik dengan megikuti pendidikan
lanjut, seminar-seminar, maupun peltihan-pelatihan.
c.
Sosial
Guru memiliki kemampuan untuk
berinteraksi sosial secara positif dengan orang lain, baik sesama guru,
pimpinan sekolah, orang tua peserta didik, peserta didik dan pihak lainnya.
d.
Kepribadian
Guru memiliki karakteristik pribadi yang
mantap atau akhlak mulia, sebagai suri tauladan, atau figure moral bagi peserta
didik. Karakteristik pribadi guru diantaranya:
1.
Ikhlas
(lillahi taala dalam mendidik, karena menyakini bahwa mendidik adalah salah
satu bentuk ibadah kepada allah)
2.
Sabar
(self-control, tabah hati, tidak mudah marah, atau tidak mudah frustasi, jika
mengalami masalah atau musibah)
3.
Jujur
(amanah, tidak berbohong, tidak menipu atau pun khianat)
4.
Rendah
hati (tawadhu, tidak sombong, angkuh atau arogan)
5.
Disiplin
(mentati peraturan yang tekah ditetapkan, baik yang terkait dengan tugas-tugas
yang bersifat administratif maupun akademik)
6.
Istiqamah
(memiliki sifat pribadi yang konsisten, ajeg, atau tegar hati, dalam
mengamalkan kebenaran)
7.
Bersikap
respek (bersikap hormat/menghargai) kepada peserta didik atau orang lain, tidak
menyakiti pesert didik karena oramg lain.
8.
Antusias
(bersemangat) dalam melaksanakan tugas, mengajar dikelas, menunujukan dalam
meberikan penjelasan, ilustrasi dan jawaban terhadap pesrta didik.
9.
Memiliki
motif yang tinggi untuk motoif belajar
(meneruskan studi yang lebih tinggi, rajin membaca buku, atau reeferensi lain,
yang bermanfaat, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah: seminar, dan loka
karya.
10.
Mencintai
atau menyayangi pesrta didik
11.
Bersikap
ramah, (tidak bersikap judes, tidak galak, atau “killer” tetapi murah senyum
atau bersikap hangat.
12.
Lemah
lembut (tidak bersikap kasar kepada anak didik)
13.
Bersikap
adil (dalam memberi nilai, atau dalam memperlakukan, pserta didik, guru tidak
pilih kasih, tidak menganakemaskan atau menganaktirikan).
14.
Bertutur
kata yang sopan (kepada peserta didik ataupun kepada orang lain)
15.
Berpenampilan
sederhana, sopan dan bersih (seperti dalam berprilaku, berpakaian dan bersisir
rambut)
16.
Mau
bekerja sama dengan orang lain (berkalaborasi dengan pimpinan sekolah, guru
orang tua, peserta didik)
17.
Bersikap
percaya diri (tidak infirior atau rendah diri)
jadi
yang harus dilakukan guru dalam proses belajar mengajar adalah: menciptakan
suasana yang kondusif, kreatif, membuat
suasana pembelajaran yang menarik dan mebangkitkan motivasi para siswa agar
lebih aktif giat dalam belajar. Membimbing dan memberikan kemudahan bagi siswa
dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi berkualitas. Selain itu
juga guru harus mempunyai kepribadian yang putut mencerminkan layaknya seorang
guru.
Guru sebagai pendidik profesional,
mempunyai citra yang baik dimasyarakat, apabila dapat menunjukkan kepada
masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat
akan melihat bagaimana sikap dan perilaku guru sehari-hari, apakah ada yang
patut di teladani, atau sebaliknya, bagaimana guru meningkatkan pelayanannya,
meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya,
demikian juga bagaimana cara guru berpakaian, berbicara serta cara bergaul baik
dengan anak didiknya, teman-temannya serta anggota masyarakat lainnya.
Soetjipto
(2004:43) Pola perilaku guru yang dihubungkan dengan sikap profesional keguruan
terhadap (1) Peraturan perundang-undangan, (2) Organisasi profesi, (3) Teman
sejawat, (4) Anak didik, (5) Tempat kerja, (6) Pimpinan, dan (7) Pekerjaan.
Kartona (1990: 3) Perilaku mempunyai pengertian yang luas sekali. Yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, belajar, lari-lari, berolah raga, bergerak dan lain-lain; akan tetapi juga membahas macam-macam fungsi seperti, melihat, mendengar, berpikir, fantasi, pengenalan kembali, penampilan emosi-emosi dalam bentuk tagis, senyum dan seterusnya.
Kartona (1990: 3) Perilaku mempunyai pengertian yang luas sekali. Yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, belajar, lari-lari, berolah raga, bergerak dan lain-lain; akan tetapi juga membahas macam-macam fungsi seperti, melihat, mendengar, berpikir, fantasi, pengenalan kembali, penampilan emosi-emosi dalam bentuk tagis, senyum dan seterusnya.
Implikasi
filsafat dalam teori pendidikan:
·
Munculnya
filsafat pendidikan yang dipelopori oleh plato
1.
Lahir
dan berkembangnya mahzab-mahzab / aliran-aliran filsafat pendidikan, antara
lain:
a.
Filsafat
pendidikan idealisme, pendidikan= pemekaran kemampuan berbuat dan berpepikir.
b.
Filsafat
pendidikan realisme, pendidikan= pemekaran kemampuan berbuat dan berpengalaman
c.
Filsafat
pendidikan eksperimentalis/instrumentalisme= rekontruksi pengalaman yang terus
berlangsung sepanjang hidup
d.
Filsafat
pendidikan eksistensialisme= perwujudan kebebasan diri sendiri.
Referensi
Taufik, M. 2013.
Pengantar Pendidikan. Bandung:
CV.Mujahid Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar